Purworejo Mulai Kembangkan Produksi Garam Pantai Selatan

Bupati Purworejo R.H. Agus Bastian, S.E., M.M. meninjau lokasi pembuatan garam di pantai Desa Patutrejo Kecamatan Grabag, Selasa Didampingi Asisten Administrasi dan Kesra Drs. Pram Prasetya Ahmad, M.M., Kepala DPPKP Wasit Diono, S.Sos. serta Kabag Humas Protokol Rita Purnama, S.S.T.P., M.M., Bupati sempat berdialog dengan petani anggota Kelompok Usaha Garam Rakyat (Kugar) Pendowo Limo.

Bupati menyatakan jenis usaha yang tergolong baru ini perlu terus dikembangkan, mengingat Kabupaten Purworejo yang memiliki panjang pantai sekitar 22 km, sehingga sangat berpotensi menjadi daerah penghasil garam. “Apalagi ada informasi kalau garam organik atau yang sering disebut garam krosok ini bisa digunakan dengan cara tertentu untuk kesehatan, karena kandungan NaCl yang sangat tinggi mampu melepaskan virus yang menempel di organ tubuh,” katanya.

Secara terpisah Wasit Diono mengungkapkan, pembuatan garam dilakukan dengan memanfaatkan lahan bekas tambak udang, menggunakan sistem tunnel. “Pengenalan produksi garam sistem tunnel, sudah dilakukan sejak tahun 2018 oleh Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan (BPPP) Tegal bekerjasama dengan Dinas Pertanian Pangan Kelautan dan Perikanan (DPPKP) Kabupaten Purworejo,” ungkapnya.

Menurutnya, hasil produksi garam sistem tunnel yang sudah pernah dilakukan sebagai percontohan, merupakan jenis garam organik pansela yang mempunyai kandungan NaCl 97,49 %  dan berwarna putih bersih. “Itu merupakan hasil analisis Sucofindo Semarang pada tanggal 3 Mei 2021, sehingga garam ini dapat dimasukkan sebagai garam industri,” jelasnya.

Dijelaskan, penggaraman sistem tunnel merupakan metode baru, yaitu model tertutup dengan lahan terasering. Penerapan model tertutup bertujuan agar produksi garam bisa berlangsung sepanjang tahun, walaupun musim hujan. Meski berada dalam ruang yang tertutup plastik, tetap ada panas sehingga proses kristalisasi dapat terjadi. Lahan pembuatan garam dibuat berpetak-petak secara bertingkat agar air dapat mengalir kapan saja dengan gaya gravitasi.

“Sistem pembuatan garam ini adalah secara organik tidak menggunakan bahan kimia tambahan apapun serta ramah lingkungan, karena tidak menghasilkan limbah yang berbahaya bagi lingkungan. Sehingga produk yang dihasilkan adalah garam organik,” jelasnya.

Dikatakan bahwa sampai pertengahan tahun 2021 ini, produksi garam terus meningkat dari 2,2 ton di bulan Januari, menjadi 3,1 ton pada bulan Mei. Produk yang dihasilkan berupa garam krosok dengan harga  Rp 2500/kilogram, Rp 4000/kilogram dan Rp 5000/kilogram.

“Pemasaran dilakukan dalam bentuk curah dan kemasan 200 gram , 1000 gram, 5000 gram maupun 25 kilogram. Produk garam ini digunakan untuk keperluan pupuk tanaman, suplemen pakan ternak, ikan dan udang, pengobatan, dan sebagainya,” kata Wasit.

 

Terakhir Diperbaharui (Rabu, 28 Juli 2021 08:03)

 
Jumlah Kunjungan
Visit
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday59
mod_vvisit_counterYesterday61
mod_vvisit_counterThis week59
mod_vvisit_counterThis month2756
mod_vvisit_counterAll102873
Visit
yang akses
Kami memiliki 6 Tamu online